Tajuk Rencana: Pengertian, Struktur, dan Syarat Penulisan

Pernahkah kamu membaca surat kabar? Di bagian kiri atau kanannya terdapat kolom berjudul tajuk rencana? Banyak yang mengabaikannya, tapi banyak juga yang menjadikannya bacaan prioritas sebelum masuk ke artikel lain. Apa sebenarnya tulisan non fiksi tersebut? bagaimana struktur dan syarat penulisannya agar enak dibaca dan benar-benar memberikan informasi bernas pada pembaca?

Pengertian

Tulisan yang juga dikenal dengan sebutan editorial ini merupakan sebuah tulisan non-fiksi yang ditulis oleh redaksi sebuah surat kabar. Isinya adalah informasi tentang topik hangat yang sedang ramai diperbincangkan, baik di media itu sendiri maupun di tengah masyarakat. Tulisan tersebut dibuat atas dasar fakta dibalut opini penulis yang diramu untuk mencerdaskan pembaca menelaah sebuah masalah.

Dalam tajuk rencana biasanya diberikan inti dari sebuah topik, lalu penulis akan melanjutkannya dengan pendapat tentang bagaimana solusi terbaik dari topik atau permasalahan yang diangkat. Beda dari berita lainnya adalah alurnya yang biasanya tidak berisi ungkapan seseorang, tapi endingnya memberikan pencerahan, agar masyarakat tidak melihat dari salah satu sisi saja.

Makanya penulis yang boleh mengisi kolom ini biasanya yang sudah senior dan benar-benar menguasai masalah yang akan diperbincangkan. Jika tidak, maka bisa menjadi polemik baru di tengah masyarakat. Tulisan ini sebenarnya sangat penting dan menjadi salah satu poin utama surat kabar, apalagi jika isinya benar-benar mengangkat topik terhangat yang belum dijamah media lain.

Struktur

Ibarat bersolek pada wanita, ada struktur yang harus dipenuhi agar riasan tampil indah, kurang lipstik misalnya akan membuat penampilan tidak maksimal, begitu juga editorial, harus memiliki struktur yang jelas sehingga pembaca tidak dibuat bingung. Apa saja struktur terbaik sebuah tajuk rencana itu?

1. Judul

Pemilihan judul untuk sebuah editorial harus mempertimbangkan beberapa hal diantaranya gampang diingat, menarik, tidak panjang, dan bisa menginterpretasikan keseluruhan dari isi tulisan.

Contoh judul editorial yang mengena adalah “Dilema Sekolah Di Pelosok Negeri” atau “Ketika Politik Berbicara”. Keduanya singkat tapi sangat mengena bagi siapa saja yang membaca, sehingga tergerak hatinya untuk menyimak hingga tuntas, apalagi jika berkaitan dengan kondisi yang dialaminya.

2. Latar Belakang

Apa yang membuat tulisan ini perlu dibuat merupakan latar belakangnya, dan penulis harus paham semua hal sekaitan masalah yang akan diangkat menjadi editorial tersebut. biasanya dicari melalui referensi pemberitaan hari sebelumnya, atau bisa juga dari media jenis lain atau informasi akurat dari narasumber berkualitas.

Contohnya adalah tentang banjir di Jakarta yang terbilang abadi, latar belakangnya adalah kondisi masyarakat terdampak banjir yang semakin prihatin, dan perlu tindakan tegas dari pemerintah.

3. Pemeran

Biasanya dalam sebuah editorial ada pemeran atau tokoh yang jadi objek dari masalah yang diangkat. Adakalanya topik yang diangkat berhubungan dengan pencapaian tokoh tertentu, instansi atau bisa juga pemerintah.

Contohnya adalah topik tajuk rencana tentang pemilihan presiden, tokohnya bisa diangkat dari sisi KPU sebagai penyelenggara, atau partai politik, atau para kandidat calon presiden itu sendiri. atau topik pertamina yang saat ini memiliki sosok Ahok sebagai komisaris, maka bisa dibuat editorial tentang pencapaian yang sudah dilakukan Ahok dan berkaitan dengan Pertamina.

4. Pokok Masalah

Masalah yang diangkat menjadi tulisan harus mampu disampaikan secara manis oleh penulis. Artinya singkat, padat, jelas dan berdasarkan fakta yang terjadi. Hal ini untuk meminimalisir pembaca menyimpulkan dengan persepsi yang salah.

5. Kejadian

Kronologis dari masalah yang diangkat pada tajuk rencana harus jelas dan terstruktur dengan baik, jangan sepotong-sepotong, karena akan membuat rancu saat dibaca. Sama halnya dengan menjawab pertanyaan matematika di papan tulis, kalau salah pastinya kamu akan kena setrap, beruntung hanya disuruh berdiri, kalau disuruh angkat kedua kaki kan jadi masalah.

6. Opini Dari Penulis

Dalam tajuk rencana opini penulis merupakan salah satu hal yang penting, malah ditunggu oleh pembaca. Maka, penulis harus hati-hati dalam membuat opini, pilihlah kata-kata yang nentral dan tak membuat orang berpihak pada satu kubu. Agar tidak tegang saat membaca, kamu sebagai penulis bisa menambahkan sedikit lelucon tapi tetap beretika dan tak keluar dari pokok tulisan.

7. Saran Serta Solusi Masalah

Kemampuan penulis dalam membuat sebuah editorial juga ditantang dalam hal menyuguhkan saran dan solusi bagi masalah yang diangkat pada tulisan tersebut. berilah saran yang positif, bukan mendeskreditkan seseorang, kelompok, atau pemerintah, karena posisi penulis adalah netral.

8. Kesimpulan

Sama halnya dengan membuat skripsi, dalam sebuah editorial juga ada bagian kesimpulan yang berisikan masalah hingga solusi. Ingat! Tetaplah berada on track dalam penulisan kesimpulan, jangan malah melebar ke masalah lain, karena pasti akan membuat pembaca bingung.

9. Sumber

Di bagian akhir tulisan penulis harus menyebutkan sumber yang melatarbelakangi diangkatnya pembahasan masalah dalam editorial tersebut. Jangan sampai pembaca menebak-nebak saja siapa sumbernya, sebab sumber terpercaya akan membuat kualitas editorial semakin maksimal.

10. Penulis

Mencantumkan tim penulis adalah hal yang juga penting dari sebuah tajuk rencana. Sehingga pembaca bisa mengetahui siapa saja yang membuatnya. Biasanya berisikan beberapa anggota dari redaksi surat kabar yang berkolaborasi.

Syarat Penulisan

Untuk menghasilkan sebuah tajuk rencana yang bernas dan benar-benar bagus, terstruktur dan mudah dipahami, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, berikut ini penjelasannya.

1. Singkat, Padat, Tepat

Jangan samakan editorial dengan berita biasa, karena dalam editorial pembahasannya dipangkas sehingga lebih singkat dan isinya fokus pada satu pembahasan, dan kaya makna bagi siapapun yang membaca. Hal yang harus dijauhkan dari editorial adalah pengulangan argumen.

2. Fungsional

Kalau kamu menulis editorial, harus memastikan bahwa tulisan tersebut akan memiliki fungsi, terutama dalam menyelesaikan masalah yang dijadikan topik tulisan. Percuma membuat editorial yang hanya akan dibaca sepintas karena berkualitas.

3. Bahasa Tidak Kaku

Jangan berfikir bahwa tulisan dari sebuah tajuk rencana akan kaku seperti berita pada umumnya. Sebab ini merupakan pengecualian karena boleh menggunakan bahasa semiformal, tujuannya agar pembaca lebih gampang menelaah apa yang disampaikan, tapi harus tetap berpatokan pada tata bahasa yang baik sesuai ejaan yang disempurnaan.

4. Pemilihan Isu Harus Tepat

Dua karakter isu yang tepat adalah sedang viral dan jadi bahan perbincangan dimana-mana, dan memiliki kaitan kuat dengan masyarakat banyak. Jangan hanya karena viral lalu jadi topik editorial padahal hanya masalah sepele dan tidak menyentuh masyarakat secara universal. Contoh isu yang tepat itu adalah naiknya BBM tentu penting bagi masyarakat.

Membahas tentang tajuk rencana memang menyenangkan, apalagi bagi kamu yang suka membaca surat kabar. Tapi kalau kamu bukan pembaca setianya, maka mulai sekarang cobalah iseng membaca dan kamu bisa menilai sendiri apakah editorial tersebut sudah merupakan tulisan yang sesuai dengan pengertian hingga syarat yang tepat, atau masih memiliki kekurangan.

Tinggalkan komentar