Ius Soli dan Ius Sanguinis : Pengertian, Perbedaaan, Masalah, Contoh Kasus

Ius Soli dan Ius Sanguinis
Ius Soli dan Ius Sanguinis

Seberapa manfaat artikel ini untuk Anda?

Ius Soli dan Ius Sanguinis – Sebuah aturan mengenai kewarganegaraan diharapkan mampu membawa warga negara Indonesia dapat menyelesaikan berbagai masalah dan menjadi aset bangsa dalam rangka memajukan bangsa. Warga negara merupakan penduduk sebuah negara dilihat dari aspek tertentu yang memiliki hak dan kewajiban penuh sebagai seorang warga dari sebuah negara. Dalam sistem warga negara sendiri, terdapat istilah ius soli dan ius sanguinis.

Secara luas, di mana seseorang dilahirkan, di situlah ia berdiri sebagai seorang penduduk asli. Namun, kedua istilah ini memegang peranan yang lebih penting dalam kewarganegaraan. Mari simak penjelasan di bawah ini!

Pengertian Ius Soli dan Ius Sanguinis

Pengertian Ius Soli dan Ius Sanguinis
Pengertian Ius Soli dan Ius Sanguinis

Sistem kewarganegaraan adalah ketentuan atau pedoman yang digunakan untuk menentukan kewarganegaraan seorang individu. Terdapat dua asas kewarganegaraan dalam menentukan kewarganegaraan seseorang yaitu ius soli dan ius sanguinis.

Secara bahasa, pengertian ius soli dan ius sanguinis ini berasal dari Bahasa Latin. Ius berarti dalil, hukum, atau pedoman. Soli berasal dari kata Solum yang artinya tanah, negeri, atau daerah. Sedangkan, Sanguinis berasal dari Sanguis yang berarti darah. Jika disimpulkan, ius soli merupakan pedoman kewarganegaraan berdasarkan daerah atau tempat kelahiran seseorang. Ius sanguinis merupakan pedoman kewarganegaraan berdasarkan hubungan dengan keturunan atau bapak ibu.

Pedoman ius soli dibagi lagi menjadi dua, yaitu tanpa persyaratan dan dengan persyaratan. Negara dengan ius soli tanpa syarat mengacu pada sebuah sistem hukum Inggris, di mana asas tersebut juga dikembangkan. Sedangkan, alasan lainnya adalah untuk menarik penduduk asing menjadi warga negara dari daerah tersebut, umumnya ditemui di negara-negara Amerika.

Ius soli dengan syarat juga diterapkan oleh beberapa negara di dunia. Ada yang memberikan kewarganegaraan apabila orang tua dari bayi baru lahir juga tinggal di negara itu secara legal, contohnya Republik Dominika. Ada juga yang memberikan syarat kalau orang tua harus mempunyai izin tinggal secara permanen, seperti Malaysia.

Ius sanguinis memang sudah ada sejak lama dan bertujuan untuk melestarikan keturunan. Kondisi ini juga memungkinkan munculnya etnis mayoritas di negara penganut pedoman ius sanguinis. Tidak hanya itu, keturunannya yang tinggal di negara lain jadi lebih mudah untuk membangun komunitas yang lebih kokoh.

Perbedaan Ius Soli dan Ius Sanguinis

Perbedaan Ius Soli dan Ius Sanguinis
Perbedaan Ius Soli dan Ius Sanguinis

Terkadang, masih ada beberapa masyarakat yang masih belum paham membedakan kedua pedoman kewarganegaraan ini. Berikut beberapa acuan yang mencolok ketika ada penduduk yang mengalami kasus kewarganegaraan tertentu sebagai pertimbangan.

1. Cara Mendapatkan Status Kewarganegaraan

  • Dalam asas ius soli, kewarganegaraan diperoleh melalui tempat kelahiran. Kewarganegaraan orang tua tidak memberikan pengaruh apapun terhadap bayi atau anaknya. Perbedaan kewarganegaraan dengan orang tua bukanlah sebuah masalah yang menentu.
  • Dalam asas ius sanguinis, kewarganegaraan diperoleh melalui kewarganegaraan orang tua. Tempat kelahiran tidak memengaruhi seseorang berkewarganegaraan sesuai pendahulunya. Di mana pun anak berada dan dilahirkan, yang terpenting mereka bersama dengan orang tua serta mendapatkan status warga negara yang sama.

2. Tujuan Penerapan Kewarganegaraan

  • Penganut pedoman ius soli nyatanya ingin menambah jumlah penduduk dan mengembangkan warga negara, terutama bagi mereka yang memiliki anak di daerah tersebut.
  • Penganut pedoman ius sanguinis memiliki capaian untuk melestarikan. Selain itu, negara penganut asas ini juga bertujuan untuk mempertahankan keturunan bangsanya, terutama ketika penduduknya berada di negara lain.

3. Negara-Negara yang Menganutnya

  • Ius soli biasanya dianut oleh negara yang berada di belahan bumi bagian barat. Mereka termasuk dalam jajaran negara baru yang memiliki mayoritas warga koloni dan bersifat independen. Contohnya, Amerika Serikat, Meksiko, hingga Argentina.
  • Ius soli biasanya dianut oleh berbagai negara di Asia Timur serta Eropa. Ciri khasnya adalah sebuah negara dengan riwayat atau sejarah kekaisaran yang kuat serta diturunkan menjadi sebuah pedoman perolehan status kewarganegaraan. Contohnya, Jerman, Inggris, dan Cina.

Masalah yang Timbul Akibat Ius Soli dan Ius Sanguinis

Setiap negara tentu mengacu pada asas kewarganegaraan yang berbeda-beda. Namun, beberapa kondisi menyebabkan permasalahan kewarganegaraan muncul pada seorang individu. Terutama ketika orang tersebut meragukan statusnya yang membingungkan. Apa saja masalah yang bisa terjadi?

1. Apatride

Merupakan sebuah kondisi di mana seseorang tidak memiliki kewarganegaraan. Istilah lain dari apatride adalah statelessness. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Masalah seperti ini bisa muncul apabila orang tua yang merupakan warga negara dari daerah penganut ius soli melahirkan anaknya di negara penganut ius sanguinis.

Dampak dari apatride atau statelessness juga termasuk besar. Anak dari kedua orang tua tersebut tidak memiliki identitas resmi dan tidak mendapatkan perlindungan hukum dari negara mana pun. Selain itu, mereka berpeluang mendapatkan pendidikan yang tidak layak. Wah, sangat disayangkan, ya?

Dalam rangka meminimalisir kerugian tersebut, orang tua harus mengurus kewarganegaraan anaknya sesegera mungkin. Namun, apabila anak sudah dewasa, maka mereka bisa menentukan status kewarganegaraannya sendiri.

2. Bipatride

Merupakan suatu keadaan di mana seseorang memiliki kewarganegaraan ganda. Bipatride bisa terjadi ketika orang tua yang merupakan warga negara dari daerah ius sanguinis melahirkan anaknya di daerah yang mengacu pada pedoman ius soli.

Kejadian bipatride umumnya menimbulkan lebih banyak manfaat dalam kehidupan. Namun, apabila anak tersebut tinggal di Indonesia, bipatride hanya diizinkan pada usia anak-anak. Setelah menginjak usia dewasa, mereka harus menentukan salah satu status kewarganegaraan yang diinginkan.

Contoh Kasus Asas Ius Soli dan Ius Sanguinis

Contoh Kasus Asas Ius Soli dan Ius Sanguinis
Contoh Kasus Asas Ius Soli dan Ius Sanguinis

1. Pasangan dengan Kewarganegaraan Sama dan Menganut Asas Ius Soli

Anne dan Brody adalah pasangan suami istri yang berasal dan memiliki keturunan dari Argentina. Mereka berdua memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat. Beberapa waktu kemudian, Anne melahirkan seorang anak di Amerika Serikat.

Sampai si anak berusia 17 tahun, ia akan mendapatkan fasilitas, perlindungan hukum, dan pendidikan yang memadai dari Amerika. Kondisi ini merupakan bentuk peristiwa nyata akibat asas ius soli yang digunakan untuk menentukan kewarganegaraan seseorang.

2. Pasangan dengan Kewarganegaraan Berbeda Tinggal di Negara Ius Soli

Katie dan Budi adalah sepasang suami istri berbeda kewarganegaraan. Katie adalah warga negara Brazil, sedangkan Budi adalah warga negara Indonesia. Mereka memutuskan untuk tinggal di Brazil dan membesarkan anak di sana. Anak Katie dan Budi memiliki kewarganegaraan Brazil karena negara tersebut menganut asas ius soli. Hal ini juga bisa terjadi bukan karena orang tua yang memiliki kewarganegaraan Brazil.

3. Pasangan Warga Negara Ius Sanguinis yang Tinggal di Daerah Lain dengan Ius Sanguinis

Ada sepasang suami istri yang berasal dari Cina kemudian memutuskan untuk pindah ke Jerman. Tidak lama, mereka mempunyai anak dan sudah pasti kalau kewarganegaraannya Cina. Hal ini disebabkan oleh kedua negara yang menganut asas ius sanguinis. Tempat kelahiran tidak akan memengaruhi status warga negara sang anak.

4. Pasangan Berbeda Kewarganegaraan Tinggal di Daerah Ius Sanguinis

Cheri adalah seorang warga negara Inggris, sedangkan Jack adalah warga negara Amerika Serikat. Keduanya tinggal di Indonesia dan mempunyai anak di sana. Maka, sang anak akan memperoleh kewarganegaraan Inggris. Hal ini bisa terjadi karena Indonesia menganut ius sanguinis, di mana anak harus memperoleh status kewarganegaraan sesuai riwayat keturunannya.

Menentukan status kewarganegaraan berdasarkan asas ius soli dan ius sanguinis nyatanya tidak terlalu mudah. Berbagai dasar hukum yang berlaku harus bisa dijalankan supaya warga negara seorang anak dapat ditentukan dengan benar. Baik itu keturunan atau tempat lahir, keduanya memiliki peranan penting sesuai dengan keadaan tertentu.

rizki
Manusia biasa yang terus berjuang untuk memperbaiki diri