Teori Konsentris, Sektoral, & Inti Ganda

Pernahkah Kamu bertanya-tanya mengapa bank atau pusat perbelanjaan di kota Kamu berada di tempat itu? Atau bagaimana kawasan industri bisa dibangun di lokasi tersebut? Ada alasan mengapa bangunan-bangunan tersebut dibangun di mana mereka berada sekarang dan daerah perkotaan tumbuh cepat dalam hal perumahan dan perdagangan, atau biasa disebut dengan tata letak kota.

Intinya, membangun kota itu ga sembarang guys, bahkan ini lebih susah daripada membangun hubungan Kamu dengan pacar lho, hehe. Buat Kamu yang kuliah di jurusan perencanaan wilayah dan tata kota, pasti udah ga asing nih dengan 3 istilah ini: teori konsentris, sektoral, dan inti ganda. Nah, untuk Kamu yang baru pertama kali tahu dengan istilah ini, yuk, belajar bersama dengan membaca penjelasan di bawah ini.

1. Teori Zona Konsentris

Teori zona konsentris adalah sebuah teori tata kota yang dikembangkan oleh Sosiolog hits bernama William Burgess, di mana ia menyatakan bahwa sebuah kota menggunakan lingkaran konsentris berisi 5 zona untuk menunjukkan bagaimana lahan perkotaan digunakan.

William Burgess memulai teori ini karena ingin mengetahui mengapa kelompok sosial tertentu terletak di daerah perkotaan tertentu. Akhirnya, ia mengadakan penelitian ‘getol’ pada tahun 1923 di kota-kota besar Amerika Serikat terutama di Chicago, yang kemudian memperoleh 5 zona konsentris sebagai berikut:

Zona 1 (Kawasan Pusat Bisnis)

Zona I adalah pusat (zona terdalam) tempat distrik pusat bisnis berada dan memiliki nilai tanah tertinggi. Zona ini memiliki aktivitas tersier dan merupakan pusat ekonomi maksimum dari sebuah kota. Zona ini merupakan konvergensi yang banyak dilewati transportasi umum, sehingga semua orang memiliki akses mudah ke segala tempat di sekitar termasuk ke luar kota.

Zona ini sering memiliki gedung pencakar langit dan kepadatan penduduk yang tinggi. Akibat aktivitas komersial yang terjadi di area ini, zona ini jarang bahkan tidak dapat dibangun perumahan. Kalau Kamu memperhatikan, pusat Kota memang sangat jarang dijadikan tempat tinggal, kan?

Zona 2 (Zona Transisi)

Zona 2 adalah campuran antara perumahan dan komersial. Zona ini terletak berdekatan dan di sekitar zona I dan terus berubah, alias terjadi transisi. Ciri lain dari zona ini adalah adanya berbagai kegiatan industri yang memanfaatkan tenaga kerja dan pasar terdekat, sebagai tempat parkir, kafe, minimarket, dll.

Seperti zona 1, zona 2 tidak memiliki banyak rumah akibat memiliki kepadatan populasi yang tinggi, terutama ketika kegiatan industri berada pada puncaknya. Sehingga, zona ini adalah tempat kebanyakan orang bekerja.

Zona 3 (Zona Kota / Kelas Pekerja)

Area ini ditempati untuk tujuan perumahan dan juga dikenal sebagai “kota bagian dalam” atau “pinggiran kota bagian dalam.” Zona ini terdiri dari rumah-rumah yang dibangun untuk mengakomodasi pekerja pabrik tetapi memiliki kondisi yang lebih baik daripada zona transisi.

Daerah ini memiliki campuran antara pembangunan baru dan lama dan umumnya membutuhkan pembangunan kembali yang lebih tertib.

Orang-orang yang tinggal di zona ini adalah imigran generasi kedua, seperti para pekerja lajang. Lajang bukan berarti jomblo ya, hehe. Zona ini paling dekat dengan wilayah kerja dengan kondisi tempat tinggal yang sederhana, dan ini mengakibatkan berkurangnya biaya perjalanan ke zona 1 dan 2 .

Zone 4 (Pinggiran Kota Bagian Luar)

Zona ini memiliki ruma-rumah yang lebih besar dan pembangunan baru yang ditempati oleh kelas menengah. Tidak seperti penghuni tunggal di zona 3, rumah-rumah di zona 4 lebih banyak ditinggali oleh keluarga, bukan pekerja lajang.

Orang yang tinggal di zona ini kebanyakan mencari kualitas hidup yang lebih baik, misalnya jauh dari macet dan polusi. Zona ini juga memiliki fasilitas yang lebih baik untuk para penghuni, seperti taman, ruang terbuka, toko, dll.

Zone 5 (Commuter Zone)

Commuter zone adalah area periferal dan terjauh dari zona pusat, yang tentu saja menghasilkan biaya perjalanan tertinggi jika dibandingkan dengan zona lain. Orang-orang yang tinggal di bagian ini adalah kelompok berpenghasilan menengah ke bawah dan biasanya suka berkebun. Zona ini menawarkan kualitas hidup yang lebih sehat karena jauh dari polusi tetapi dengan biaya transportasi yang lebih tinggi.

2. Teori Sektoral

Teori sektoral adalah model pembangunan perkotaan yang dikemukakan oleh Homer Hoyt, di mana pertumbuhan kota terjadi di sektor-sektor yang terpancar keluar dari kawasan pusat bisnis kota (CBD). Homer Hoyt adalah seorang ekonom tanah, konsultan real estat dan penilai di sebagian besar kehidupan profesionalnya. Wah, keren banget ya dia!

Teori Homer Hoyt ini dianggap agak mirip dengan teori Burgess, tapi dengan versi yang ditingkatkan. Susunan dari teori ini adalah:

  • Kawasan pusat bisnis (CBD)
  • Industri
  • Perumahan kelas tinggi
  • Perumahan Kelas Menengah
  • Perumahan Kelas Rendah

Sedangkan asumsi dari teori sektoral adalah:

  • Faktor ekologis + konsep sewa ekonomi untuk menjelaskan pola penggunaan lahan
  • Menekankan peran rute transportasi dalam mempengaruhi penataan ruang kota
  • Baik jarak dan arah pertumbuhan dari pusat kota dipertimbangkan
  • Membawa lokasi nilai kemudahan industri dan lingkungan sebagai penentu di tempat tinggal
  • Jalur-jalur di sepanjang pusat kota hingga perbatasan memiliki harga jual atau sewa tanah yang rendah

3. Teori Inti Ganda

Teori inti ganda tahun 1945 yang dikemukakan oleh Chauncy Harris dan Edward L. Ullman didasarkan pada argumen bahwa kota-kota memiliki beberapa titik pertumbuhan atau “inti” di sekitar tempat pertumbuhan berlangsung.

Bisa dibilang, teori ini berlawanan dengan 2 teori sebelumnya, di mana Harris dan Ullman berargumen bahwa sebuah kota mungkin dimulai dengan satu distrik pusat bisnis (CBD), tetapi seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut akan tersebar dan berubah.

Kegiatan yang tersebar ini menarik orang-orang dari daerah sekitarnya dan bertindak sebagai inti yang lebih kecil. Inti kecil ini kemudian menjadi penting dan tumbuh dalam ukuran lain dan mulai mempengaruhi pertumbuhan kegiatan di sekitarnya.

Teori ini ada untuk memberikan penjelasan yang lebih realistis dan menawarkan peluang di berbagai tempat di suatu kota. Jadi, pemerintah tidak hanya memusatkan semua kegiatan ekonomi di satu tempat, tetapi dapat mulai mengoptimalkan bisnis untuk mendapatkan laba maksimum dengan mencari di tempat yang berbeda dan menurunkan biaya sewanya dengan sedikit peningkatan biaya transportasi.

Sedangkan beberapa kegiatan seperti kawasan industri yang menciptakan polusi harusnya ditempatkan jauh dari daerah perumahan. Tentu saja agar kualitas hidup masyarakat lebih sehat. Namun, teori ini dianggap lebih cocok untuk kota-kota besar, karena kota kecil atau kota baru tidak memiliki lokasi yang terdefinisi dengan sangat baik.

Wilayah perkotaan memang selalu menjadi bidang penelitian yang menarik bagi banyak orang, di mana pertumbuhan populasi, pertumbuhan kota, geografi pemukiman, dan penggunaan lahan perlu dipelajari lebih dalam. Salah satunya dengan menggunakan 3 teori tata kota di atas.

Seberapa manfaat artikel ini untuk Anda?

Tinggalkan komentar