Mitigasi Bencana Alam: Pengertian, Tujuan, Jenis, Kegiatan, Prinsip

Pernahkah Kamu belajar tentang ilmu Geografi? Jika iya, maka Kamu pasti tidak asing dengan istilah mitigasi bencana alam, bukan? Minimal Kamu pasti pernah baca, hehe. Nah, untuk Kamu yang baru tahu istilah ini, jadi begini penjelasannya.

Dalam ilmu Geografi, ada 4 macam penanganan bencana alam berdasarkan siklus waktunya nih, yaitu mitigasi (sebelum bencana terjadi), evakuasi (saat bencana terjadi), searching and rescue (sesaat setelah bencana) dan pemulihan (setelah bencana terjadi alias pasca bencana). Oke, kali ini Kamu hanya perlu fokus ke bagian mitigasi. Langsung aja yuk, simak artikel di bawah ini dengan seksama!

Pengertian Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana alam adalah serangkaian upaya yang dilakukan untuk menghilangkan, mengurangi, atau mengendalikan dampak resiko dan kerugian yang tidak diinginkan melalui tindakan proaktif yang diambil sebelum keadaan darurat atau bencana terjadi, seperti banjir, gempa bumi, kebakaran hutan, tanah longsor, letusan gunung berapi, angin kencang, dan sebagainya.

Tujuan Mitigasi Bencana

Kamu pasti sudah tahu, kan? Kalau bencana (baik natural disaster alias bencana alam atau pun man-made disaster alias karena ulah manusia) dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, dan jika kita tidak siap, akibatnya bisa sangat fatal lho.

Mulai dari kehilangan barang-barang berharga, rumah, bahkan nyawa. Duh membayangkan saja sudah seram ya. Maka dari itu, mitigasi ada untuk mengurangi dampaknya. Dan secara lengkap, berikut adalah tujuan dari mitigasi:

  • Menghilangkan atau mengurangi korban jiwa
  • Mengurangi kerusakan harta benda (baik milik pribadi maupun publik)
  • Mencegah atau mengurangi kerusakan sumber daya alam.
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat (public awareness) dalam mencegah/mengantisipasi dan menghadapi dampak bencana
  • Meningkatkan rasa aman dan nyaman masyarakat.

Jenis-Jenis Mitigasi Bencana

Sama seperti perang melawan netizen, perang melawan bencana juga harus dilakukan oleh semua orang secara bersama-sama agar hasilnya bisa maksimal. Dan praktik ini tidak hanya melibatkan investasi sektor publik dan swasta, tapi juga perubahan sikap sosial dan peningkatan praktik individu. Nah, ini dia jenis-jenis tindakan mitigasi utama yang bisa mengurangi resiko jangka panjang:

1. Proyek Struktural

Proyek struktural adalah proyek mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah, administratif, atau peraturan yang melibatkan pembangunan struktur untuk mengurangi dampak bahaya. Misalnya, perencanaan dan zonasi, membangun bendungan dan tembok banjir, membangun gedung yang tahan gempa, pelestarian ruang terbuka, peraturan pengelolaan air hujan, alat pendeteksi aktivitas gunung berapi, dan sebagainya.

2. Perlindungan Properti

Perlindungan properti adalah modifikasi bangunan atau struktur untuk melindunginya dari bahaya atau memindahkan struktur dari area bahaya ke lokasi yang lebih aman. Contohnya adalah akuisisi, relokasi, retrofit struktural, melengkapi bangunan yang sudah dengan kaca anti pecah, dll.

3. Sosialisasi

Sosialisasi adalah tindakan pembelajaran dan pengajaran yang diberikan kepada masyarakat di segala usia dan kalangan tentang bahaya bencana dan cara untuk memitigasi mereka. Sosialisai ini terutama bertujuan untuk mengembangkan “budaya keselamatan” bencana.

Budaya di mana masyarakat umum sepenuhnya menyadari potensi bahaya, memilih untuk melindungi dirinya sendiri semaksimal mungkin dan dapat dengan mudah mendukung upaya perlindungan yang dibuat atas namanya. Jadi, individu juga harus ikut serta ya, bukan pemerintah saja.

Beberapa contoh sosialisasi bencana adalah dengan dibangunnya pusat informasi bahaya, memberikan pendidikan tentang bencana di sekolah, simulasi bencana, mengajak masyarakat untuk lebih menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dll. Hayo, siapa nih yang masih suka menebar sampah di sembarang tempat? Duh Kamu, itu bahaya ya! Mending nebar uang aja ya, hehe.

4. Pengurangan Konflik

Dalam bencana dan keadaan darurat yang disebabkan oleh konflik, mitigasi harus mencakup pengurangan konflik. Langkah-langkah pengurangan konflik harus dimulai dengan mengidentifikasi dan mengatasi akar penyebab konflik.

Meskipun negosiasi sering kali menjadi alat utama pengurangan konflik, masalah-masalah tersebut mungkin timbul karena sebab-sebab seperti penguasaan lahan, pekerjaan, akses ke sumber daya, dan intoleransi terhadap perbedaan etnis atau agama. Masalah-masalah ini perlu diantisipasi melalui bentuk peringatan dini dan dijinakkan sebelum konflik meletus.

5. Mengidentifikasi Lokasi dan Situasi

Memahami bagaimana terjadinya bahaya alam atau kecelakaan berubah menjadi bencana memungkinkan masyarakat untuk memperkirakan kemungkinan situasi di mana bencana itu mungkin terjadi. Misalnya, beberapa bangunan (elemen) lebih rentan terhadap gempa bumi (bahaya) daripada yang lain.

Jadi, saat membangun gedung atau rumah, pastikan bangunan tersebut benar-benar kuat ya. Jangan sampai nih, baru dibangun 1 bulan ternyata sudah ambruk. Duh! Juga, hindari membangun atau membeli rumah di area rawan banjir atau tanah longsor.

6. Perlindungan Sumber Daya Alam

Perlindungan sumber daya alam adalah tindakan yang meminimalkan bencana alam dengan cara melestarikan atau mengembalikan fungsi alam. Misalnya, pengendalian sedimen dan erosi, restorasi koridor sungai, pengelolaan daerah aliran sungai, pengelolaan hutan dan vegetasi, serta pemulihan dan pelestarian lahan basah.

7. Layanan Darurat

Layanan darurat adalah tindakan yang melindungi orang dan properti selama dan segera setelah peristiwa bencana. Misalnya dengan memasang sistem peringatan bencana, layanan tanggap darurat, perlindungan fasilitas penting, dll.

Kegiatan Mitigasi Bencana

Kegiatan mitigasi dapat mencakup pembuatan alat komprehensif dan proaktif yang membantu memutuskan di mana harus memfokuskan pendanaan dan upaya pengurangan resiko, seperti:

  • Mengidentifikasi sumber bahaya/bencana
  • Praktik zonasi / identifikasi zona aman untuk pemukiman
  • Menerapkan aturan kode bangunan
  • Pemetaan dataran banjir
  • Bangunan aman tornado dan gempa
  • Mengubur kabel listrik untuk mencegah kerusakan
  • Budidaya rumah di daerah rawan banjir
  • Program kesadaran publik mitigasi bencana
  • Program asuransi
  • Tata cara penggunaan lahan yang benar
  • Menanam pohon-pohon yang menyerap CO2 dari udara dan menyimpannya
  • Memperlambat proses perubahan iklim global
  • Menggunakan kendaraan hemat bahan bakar/meningkatkan transportasi tidak bermotor
  • Larangan membuang sampah di sungai atau aliran air lainnya
  • Restorasi tanah gambut yang dibudidayakan dan lahan terdegradasi
  • Peningkatan teknik budidaya padi dan manajemen pupuk kandang untuk mengurangi emisi CH4
  • Larangan menebang hutan atau lahan hijau lainnya
  • Pembentukan hutan baru dengan penyemaian (reboisasi) atau penanaman di lahan non-hutan
  • Penggunaan produk kehutanan untuk bioenergi untuk menggantikan penggunaan bahan bakar fosil
  • Pengolahan air limbah yang terkontrol

Prinsip-prinsip dalam Mitigasi Bencana

Semua peristiwa, baik alamiah atau disebabkan oleh aktivitas manusia, harus dikelola sesuai dengan Undang-Undang dan pedoman manajemen bencana yang relevan. Dan prinsip-prinsip mitigasi bencana yang sesuai aturan adalah:

  • Melakukan kerja sama dengan berbagai pihak (tanggung jawab bersama)
  • Dilakukan secara aktif
  • Non-diskriminasi
  • Tindakan pencegahan khusus untuk kelompok yang paling rentan (balita dan lansia)
  • Selalu dipantau dan dievaluasi
  • Evakuasi preventif populasi

Tak hanya menyebabkan kerugian yang sangat besar, pemulihan di bidang ekonomi akibat bencana dapat memakan waktu bertahun-tahun, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Karena itu, mitigasi bencana alam sangat-sangat penting untuk dilakukan.

Tinggalkan komentar