Pakaian Adat Sunda

Pakaian adat Sunda – Etnis Sunda mendiami kawasan yang kini masuk wilayah administratif Jawa Barat dan Banten. Etnis Sunda memang begitu unik dan terkenal dengan kaum wanitanya yang punya kulit putih nan cantik jelita. Selain itu, Sunda juga dikenal dengan budayanya yang cukup beragam. Ada juga pakaian adat Sunda yang masih terus dilestarikan hingga kini.

Kata Sunda digunakan oleh Raja Purnawarman untuk menyebut ibukota kerajaan Tarumanegara tahun 397M. Kata sunda sendiri menurut ahli sejarah berasal dari bahasa sansekerta “suddha” yang artinya adalah bersih, terang, berkilau, atau putih. Selama masa kerajaan Hindu Buddha hingga kerajaan Islam, banyak sekali akulturasi budaya yang ikut mempengaruhi baju adat di Sunda.

Jenis-Jenis Pakaian Adat Sunda

Pakaian adat Sunda pada zaman dulu masih mengikuti aturan kasta sosial masyarakat. Baju yang bisa digunakan oleh kelas bangsawan berbeda dengan baju yang digunakan oleh kalangan rakyat biasa. Begitu juga dengan jenis dan bahan bajunya. Semakin tinggi status sosial seseorang, maka ia bisa memakai baju dengan tampilan yang semakin mewah.

1. Celana Pangsi

Celana pangsi adalah pakaian khas Sunda yang digunakan oleh kalangan masyarakat biasa. Celana ini digunakan oleh kaum laki-laki. Bentuknya sangat sederhana dan saat Kamu melihatnya, Kamu akan langsung teringat dengan sosok legendaris Si Kabayan. Celana pangsi ini berupa celana longgar berwarna hitam. Biasanya panjang celana pangsi ini hanya ¾ saja.

Celana pangsi pada zaman dulu merupakan baju bawahan yang biasa dipakai oleh masyarakat dalam kegiatan sehari-hari mereka. Misalnya saja untuk pergi ke kebun, sawah, menggembala ternak, dan lain sebagainya. Mereka juga biasa mengenakan celana ini untuk keperluan upacara adat.

2. Salontreng

Saat mengenakan celana pangsi, maka masyarakat akan memadukannya dengan atasan yang disebut salontreng. Atasan ini berwarna hitam polos dan cukup longgar. Salontreng bisa dibuat model berkancing tapi kadang juga tidak memiliki kancing. Laki-laki Sunda biasa menggunakannya dipadukan dengan dalaman kaos putih.

Baju salontreng ini dilengkapi dengan aksesoris berupa sarung yang dilipat dan kemudian disampirkan di pundak. Mereka juga akan mengenakan ikat kepala logen, sabuk, dan juga sandal tarumpah dari kayu.

3. Kebaya Sunda

Wanita dari kalangan bawah biasa mengenakan atasan berupa kebaya dalam keseharian mereka. Kebaya yang dipakai sangat sederhana dan hanya dibuat dari kain polos tanpa hiasan apapun. Kebaya ini dipakai bersama dengan kamisol (dalaman), selendang batik, dan juga ikat pinggang beuber.

Tak ada aturan yang baku mengenai warna kebaya yang harus digunakan oleh masyarakat. Tapi umumnya wanita Sunda mengenakan kebaya dengan warna-warna yang kalem dari bahan agak tipis. Para wanita ini dulunya menggunakan kebaya untuk aktivitas sehari-hari, misalnya menjaga anak di rumah, memasak, pergi ke sawah, dan juga untuk berdagang di pasar.

4. Kain Kebat

Wanita kelas bawah yang mengenakan kebaya akan dipadukan dengan kain kebat. Bentuknya menyerupai sarung panjang dan biasa disebut juga dengan sinjang bundel. Biasanya kain kebat ini dipakai sebagai bawahan seperti rok yang panjangnya sampai betis. Mengapa tidak sampai mata kaki? Karena dengan begitu wanita Sunda akan lebih mudah bergerak untuk beraktivitas.

Untuk mengencangkan ikatan kain kebat, wanita Sunda mengenakan ikat pinggang beuber. Kalau Kamu masih penasaran, Kamu bisa melihat contoh baju adat ini pada sosok Nyi Iteung istri si Kabayan) yang selalu membawa bakul nasi di pinggangnya.

5. Baju Bedahan

Kalau Kamu pada zaman dulu berasal dari kelompok kasta menengah seperti keluarga pedagang atau saudagar kaya raya, Kamu bisa menggunakan baju bedahan. Laki-laki kelas menengah bisa memakai baju atasan berupa jas putih yang disebut baju bedahan. Biasanya ada berbagai ornamen tambahan yang dibuat dari sulaman benang warna perak pada baju ini.

Kaum laki-laki kelas menengah ini akan menggunakan baju bedahan bersama dengan bawahan dari kain kebat, namun dengan kualitas yang bagus. Biasanya kain kebatnya bermotif batik dengan aksen warna emas. Kain kebat akan diikat kuat dengan bantuan sabuk. Dan mereka juga akan mengenakan ikat kepala bernama bengker.

Untuk memperindah penampilan agar terlihat semakin berkelas, kaum pedagang ini biasanya mengenakan arloji rantai berwarna emas yang dimasukkan dalam saku baju bedahan. Tak ketinggalan, kaum pria ini juga memakai sandal selop dari bahan beludru dengan hak tipis. Mereka mengenakan baju bedahan ini bahkan untuk kegiatan sehari-hari zaman dulu.

6. Kebaya Perempuan Kelas Menengah

Meskipun sama-sama mengenakan kebaya, namun wanita kelas bawah dan kelas menengah pasti mengenakan jenis kebaya yang berbeda. Wanita dari keluarga saudagar atau pedagang akan mengenakan kebaya aneka warna yang terbuat dari kain sutra mengkilap. Penampilan mereka akan semakin anggun dengan sanggul, kain kebat, ikat pinggang, dan selendang.

Mereka juga biasa mengenakan perhiasan berupa kalung, anting, dan gelang. Tak jarang sanggul rambut mereka dihiasi dengan tusuk konde yang terbuat dari emas atau bahan lain yang berwarna gold. Mereka mengenakan alas kaki berupa sandal selop beludru yang dikenal dengan istilah sandal kelom geulis.

7. Jas Beludru Aksen Emas

Bagi pria Sunda yang berasal dari keluarga bangsawan atau keluarga kerajaan, Kamu bisa mengenakan pakaian adat berupa jas beludru hitam. Untuk menambah kesan mewah, pada zaman dulu jas ini ditambah dengan sulaman benang emas pada bagian bawah, depan, dan juga pergelangan tangan bajunya.

Jas beludru ini biasa dipakai dengan baju dalaman berwarna putih. Jas biasa dipakai dengan bawahan berupa celana hitam yang juga dibuat dari bahan beludru. Pada bagian pinggang biasanya diikatkan kain kebat yang warnanya berkilau seperti coklat keemasan. Kemudian tampilan akan semakin berwibawa saat dilengkapi dengan sabuk emas dan tutup kepala.

8. Kebaya Beludru

Tak jauh berbeda dengan pria bangsawan, wanita dengan strata sosial yang sangat tinggi di Sunda juga akan mengenakan kebaya dari bahan kain beludru hitam. Kebaya ini akan disulam juga dengan hiasan manik-manik atau mute di bagian bawah memanjang sampai ke bagian depan dan juga di bagian lengan kebaya.

Wanita kelas bangsawan akan mengenakan kebaya yang dipadukan dengan kain kebat motif rereng. Mereka juga akan mengenakan alas kaki berupa sandal selop beludru. Tak lupa, mereka mempercantik penampilan dengan aksesoris perhiasan seperti kalung besar, gelang, cincin, dan juga tusuk konde dari emas.

9. Beskap

Laki-laki Sunda yang akan menghadiri acara penting harus mengenakan setelah baju beskap. Bentuknya seperti jas dari bahan tebal berkilau yang kerahnya tinggi tidak terlipat. Baju beskap ini berukuran lebih panjang di bagian depan dan pendek di bagian pinggang untuk memudahkan penggunanya memakai keris.

Saat ini Kamu bisa dengan mudah melihat pakaian adat Sunda beskap saat acara pemilihan duta pariwisata Jawa Barat atau Banten. Kontestan laki-laki akan mengenakan setelan beskap lengkap dengan kain kebat, ikat pinggang, dan juga sandal selop.

Pakaian Adat Sunda pada zaman dulu memang dibedakan berdasarkan kelas sosial penggunanya. Tidak ada orang dari kelas biasa bisa memakai baju adat untuk kelas bangsawan. Tapi kini, Kamu pun bisa mengenakan baju bangsawan Sunda, utamanya jika ingin menikah dengan tema tradisional.

Leave a Comment