Rumah Adat Jawa Tengah

Rumah adat Jawa Tengah – Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan, salah satunya adalah dijumpai adanya keanekaragaman rumah adat Jawa Tengah.

Jenis-jenis Rumah Adat Jawa Tengah

Jawa Tengah mempunyai berbagai jenis rumah adat dengan gaya arsitektur yang unik dan menarik. Masing-masing jenis rumah juga memiliki fungsi yang berbeda-beda.

1. Rumah Kampung

Keanekaragaman jenis rumah adat dipengaruhi oleh strata sosial. Kesenjangan sosial juga turut berpengaruh terhadap jenis rumah adat. Salah satu contohnya adalah rumah kampung, yang mana rumah tersebut pada umumnya menjadi tempat tinggal bagi masyarakat golongan menegah ke bawah.

Rumah kampung memiliki gaya arsitektur yang hampir sama dengan gaya arsitektur rumah panggang pe. Jumlah tiang penyangga menjadi ciri khas yang dapat membedakan antara rumah kampung dengan rumah adat lainnya.

Rumah kampung mempunyai tiang dengan jumlah yaitu 8, 12, 16, 20 dan angka kelipatan 4 selanjutnya. Jenis rumah tersebut ada 13, antara lain adalah kampung pokok, pacul gowang, gajah ngombe dan lain-lain

2. Rumah Joglo

Dahulu, rumah joglo menjadi lambang status sosial seseorang. Hanya masyarakat dengan golongan tertentu saja yang dapat membangun rumah adat tersebut. Kamu membutuhkan material yang sangat banyak untuk mendirikan rumah tersebut. Di sisi lain, harga materialnya mahal sehingga tidak semua orang mampu membelinya.

Oleh karena itu, dahulu rumah joglo hanya dimiliki oleh para bangsawan, pangeran maupun raja. Masyarakat golongan menengah ke bawah tidak ada yang memilikinya. Pada umumnya, masyarakat hanya mampu untuk mendirikan jenis rumah panggang pe, rumah limasan dan rumah kampung.

Hal ini dikarenakan rumah jenis tersebut biayanya lebih sedikit dan harga materialnya terjangkau oleh masyarakat. Namun, saat ini banyak orang yang telah mampu untuk membangun jenis rumah adat joglo.

Sekarang, materialnya banyak tersedia di berbagai toko dengan harga yang lebih murah sehingga dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Bahkan, saat ini gaya arsitektur seperti rumah joglo banyak dijumpai di bangunan hotel, rumah makan dan lain-lain.

Joglo berasal dari kata tajug dan loro yang artinya adalah dua tajug yang bergabung menjadi satu. Pada rumah joglo dijumpai atap dengan bentuk tajug yang mana mirip dengan gunung. Mengapa atap bentuk tajug dipilih dalam rumah adat joglo? Hal ini dikarenakan masyarakat mempercayai bahwa gunung menjadi lambang sesuatu yang sakral.

Salah satu keunikan rumah adat joglo adalah terletak pada desain atapnya yang disangga oleh 4 tiang sehingga menghasilkan bubungan yang sangat tinggi. 4 tiang tersebut dikenal dengan soko guru yang ukurannya lebih tinggi.

Pada rumah joglo modern, atapnya menggunakan bahan genteng tanah liat. Sedangkan, pada masa sebelum ditemukannya genting maka atap menggunakan anyaman alang-alang. Bahan atap terbuat dari bahan yang alami sehingga dapat menciptakan suasana di dalam rumah yang sejuk.

Hampir semua bagian rumah joglo terbuat dari material berupa kayu yang keras. Jenis kayu yang sering digunakan untuk membuat rumah joglo adalah kayu jati. Hal ini dikarenakan kayu jati memiliki banyak keunggulan, yaitu lebih kuat dan tahan lama. Terbukti bangunan dengan bahan kayu jati bisa awet sampai beratus-ratus tahun, hehe.

Rumah joglo terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu sebagai berikut:

• Pendapa

Pada umumnya, pendapa dibangun di depan rumah. Pendapa memiliki fungsi untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas formal. Contohnya adalah sebagai tempat upacara adat, tempat pertemuan dan berbagai pagelaran kesenian seperti wayang maupun seni tari.

• Pringitan

Pringitan berada diantara omah njero dengan pendapa. Fungsinya adalah sebagai lorong untuk masuk ke dalam rumah. Selain itu, juga dimanfaatkan untuk tempat pagelaran wayang kulit.

• Emperan

Emperan merupakan teras depan yang menghubungkan pringitan dengan omah njero. Emperan ini memiliki lebar 2 meter, biasanya dilengkapi dengan kursi dan kayu. Hal ini senada dengan fungsinya sebagai tempat untuk bersantai, menerima tamu dan lain-lain.

• Omah njero

Istilah omah njero sering disebut sebagai dalem ageng atau omah mburi. Fungsi omah njero adalah sebagai tempat tinggal.

• Senthong kiwa

Senthong kiwa terletak di bagian kanan. Fungsinya adalah sebagai gudang, kamar tidur, untuk menyimpan bahan makanan dan lain-lain.

• Senthong tengah

Senthong tengah berada di sebelah tengah dan di dalam yang dikenal dengan istilah boma, krobongan dan pedaringan. Fungsi boma adalah untuk menyimpan barang-barang yang berharga, misalnya pusaka dan harta.

• Senthong tengen

Senthong tengen memiliki bagian dan fungsi yang sama dengan senthong kiwo, hehe.

• Gandhok

Gandhok adalah bangunan yang mengelilingi bagian belakang maupun sisi samping dari bangunan rumah.

3. Rumah Panggang Pe

Rumah panggang pe banyak dimanfaatkan oleh masyarakat jaman dahulu sebagai tempat untuk berdagang. Sedangkan, pada masa sekarang fungsi rumah tersebut sama dengan warung. Bahkan, kini jenis rumah adat tersebut masih dimanfaatkan sebagai hunian.

Gaya arsitektur pada rumah panggang pe sangat sederhana, tak heran jika sebagian besar rumah tersebut dihuni oleh masyarakat golongan menengah ke bawah. Konstruksi bangunan rumah adat Jawa Tengah ini terdiri atas enam tiang yang menyangganya. Ukuran tiang menjadi salah satu keunikan yang mana tiang belakang lebih panjang dari pada tiang depan.

Jenis rumah adat ini bermacam-macam, antara lain Gedhang Setangkep, Empyak Setangkep, Gedhang Salirang dan Cere Gancet. Rumah tersebut dibuat dengan menggabungkan rumah panggang pe minimal 2 rumah yang didirikan secara berderetan.

Rumah panggang pe disusun menggunakan berbagai jenis material yang terbuat dari kayu. Kamu dapat melihat konstruksi bangunan yang alami, hal ini dikarenakan kayunya tidak dicat sehingga tampak alami. Sedangkan, bagian atapnya berupa genteng yang terbuat dari tanah liat.

4. Rumah Limasan

Desain atap rumah limasan memiliki bentuk limas sehingga mendasari penamaan rumah tersebut. Seperti halnya rumah adat lainnya, maka rumah limasan juga ditempati oleh golongan masyarakat menengah ke bawah. Rumah limasan memiliki gaya arsitektur yang unik. Bagian atapnya yang terdiri atas 4 sisi ini menjadi ciri khas penanda bahwa rumah tersebut adalah rumah adat Jawa Tengah.

5. Rumah Tajug

Fungsi dibangunnya rumah tajug adalah sebagai tempat yang sakral untuk beribadah. Masyarakat zaman dahulu tidak membolehkan untuk membangun rumah tersebut kecuali untuk tempat ibadah. Bahkan sebagai tempat tinggal pun tidak diperbolehkan.

Desain atap rumah tajug sangat khas, yaitu bentuknya bujur sangkar yang mana bagian ujungnya runcing. Ada pun jenis rumah tajug terdiri atas 13 macam, antara lain Lambang Sari, Semar Trinandu, Mangkuriat dan Semar Sinongsong. Salah satu bangunan yang menerapkan desain gaya arsitektur rumah tajug dapat dijumpai pada Masjid Agung Demak.

Ada lima jenis rumah adat Jawa Tengah yang dapat Anda jadikan sumber referensi untuk mempelajari keanekaragaman rumah adat yang dijumpai di Jawa Tengah. Masing-masing rumah adat di atas memiliki gaya arsitektur yang khas dan tidak dijumpai di jenis rumah adat lainnya.

Tinggalkan komentar