Rumah Adat Gorontalo

Rumah adat Gorontalo memiliki keunikan tersendiri yang tidak dapat Kamu jumpai pada rumah adat di daerah lain. Pembangunan rumah tersebut dari tata letak hingga penempatannya, semua menganut aturan yang berlaku di masyarakat setempat. Masing-masing rumah juga memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Bentuk rumah adat di Gorontalo dipengaruhi oleh kebudayaan Islam yang terlihat pada tata letak dan fungsi dari setiap bagian rumah. Hal ini dikarenakan Gorontalo pada zaman dahulu menjadi pusat kebudayaan Islam di daerah Nusantara, terutama Nusantara bagian timur. Anda penasaran? Yuk, simak ulasan berikut ini.

Jenis-jenis Rumah Adat Gorontalo

1. Rumah Adat Bandayo Poboide

Rumah adat ini dapat Kamu jumpai di daerah Limboto, Gorontalo. Kamu dapat menjumpai bentuk rumah adat ini pada rumah dinas Bupati Gorontalo. Bentuk rumah adat tersebut adalah rumah panggung. Material penyusunnya adalah kayu yang bagus sehingga awet dan tahan lama.

Tidak seperti rumah adat dulohupa, rumah adat ini banyak dijumpai adanya sekat di dalam rumah. Sekat pada setiap kamar pada rumah adat Bandayo Poboide ini terbuat dari sebuah papan.

Bandayo Ponoide berasal dari kata Bandayo yang artinya adalah gedung dan Poboide yang artinya adalah tempat yang berfungsi untuk musyawarah. Selain itu, rumah adat Bandayo Poboide ini juga berfungsi untuk istana raja dan pusat pemerintahan serta untuk mengadakan pagelaran budaya. Saat ini, rumah tersebut dimanfaatkan sebagai tempat melestarikan dan memajukan seni serta budaya Gorontalo.

2. Rumah Adat Dulohupa

Rumah adat dulohupa merupakan salah satu rumah adat yang terletak di Kota Gorontalo. Rumah adat ini memiliki istilah lain yaitu Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo. Ada pun bentuk dari rumah adat tersebut adalah rumah panggung. Material penyusun rumah panggung yaitu terbuat dari papan. Kamu dapat menjumpai adanya ornamen khas yang mempercantik rumah.

Desain arsitektur rumah adat dulohupa ini sangat unik dan menarik. Kamu dapat menjumpai adanya tiang yang menyangga rumah panggung. Masing-masing tiang memiliki ukiran yang berfungsi sebagai hiasan yang dapat mempercantik rumah, hehe.

Penyangga panggung pada rumah adat dulohupa terdiri atas 2 pilar utama yang sering dikenal dengan istilah Wolihi. Selain itu, juga disangga oleh 6 pilar depan dan 32 pilar dasar yang dikenal dengan istilah potu.

Tiang wolihi menjadi simbol janji antara dua orang yang saling bersaudara. Janji tersebut berupa janji persatuan dan kesatuan. Jumlah tiang wolihi ada dua yang menjadi simbol pola adat masyarakat yang menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari.

Tiang depan berjumlah 6, hal ini melambangkan sifat penduduk yang terdiri atas 6 sifat yaitu tenggang rasa, hormat, berbakti terhadap para penguasa, mematuhi aturan, kewajaran dan menaati keputusan dari hakim. Sedangkan 32 tiang dasar melambangkan 32 arah mata angin.

Dibagian depan rumah, selain Kamu dapat menemukan anjungan maka Kamu juga dapat menjumpai adanya tolitihu. Tolitihu adalah dua tangga yang terletak di sebelah kanan dan kiri rumah. Tangga ini berfungsi sebagai sarana untuk masuk ke dalam rumah. Rumah adat ini dimanfaatkan oleh keluarga kerajaan sebagai tempat untuk bermusyawarah serta ruang sidang kerajaan.

Sidang terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap keamanan atau sering dikenal sebagai Buwatulo Bala, tahap hukum agama islam atau Buwatulo Syara dan terakhir tahap hukum adat atau Buwatulo Adati. Selain untuk sidang, rumah adat tersebut juga dimanfaatkan untuk merancang pembangunan dan mencari solusi atas berbagai permasalahan di masyarakat.

Namun, seiring berkembangnya zaman kini rumah adat dulohupa beralih fungsi menjadi tempat untuk melaksanakan upacara adat. Contohnya upacara adat pernikahan, pertunjukan budaya dan seni.
Di dalam rumah adat tersebut dijumpai adanya berbagai peralatan untuk upacara pernikahan, pelaminan dan benda-benda lain yang sangat berharga. Misalnya adalah untuk menyimpan baju adat pengantin, perhiasan dan lain-lain.

Rumah adat Gorontalo ini didirikan sesuai dengan aturan dan kepercayaan masyarakat setempat. Material penyusun atap berasal dari jerami yang mana bentuk atapnya adalah pelana. Hal ini menjadi simbol syariat dan adat.

Bagian atas atap melambangkan kepercayaan masyarakat Gorontalo kepada Tuhan yang Maha Esa. Masyarakat percaya bahwa agama menjadi prioritas utama di dalam hidup. Bagian bawah atap melambangkan kepercayaan kepada adat dan budaya. Atap bagian puncak dijumpai adanya Talapua yang berfungsi untuk menghindari roh-roh jahat.

3. Rumah Adat Gobel

Rumah adat ini dapat Kamu jumpai pada masyarakat yang tinggal di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Istilah penamaan rumah gebel ini berdasarkan sejarahnya yaitu rumah tersebut dahulu merupakan kediaman keluarga kerajaan Raja Gobel.

Bangunan rumah tersebut hingga kini dimanfaatkan sebagi tempat untuk mengadakan berbagai acara-acara resmi pemerintah. Misalnya adalah musyawarah besar.

4. Rumah Adat Ma’Lihe

Rumah adat ini sering dikenal dengan istilah rumah adat Potiwaluya. Rumah tersebut merupakan jenis rumah yang dihuni masyarakat Gorontalo. Ma’lihe berasal dari bahasa Gorontalo yang memiliki arti mahligai.

Rumah adat ma’lihe ini berupa rumah panggung yang bentuknya bujur sangkar. Rumah tersebut disangga oleh pilar setinggi satu hingga empat meter. Sedangkan, atapnya berbentuk persegi panjang.

Atap bagian depan tampak seperti sebuah segitiga, sedangkan bagian samping atap tampak seperti jajar genjang. Ada pun material penyusun atap terbuat dari daun rumbia. Sedangkan dinding rumahnya menggunakan bahan berupa anyaman bambu. Bagian rumah terdiri atas kamar tidur, ruang tamu, dapur, serambi dan jendela yang dijumpai pada setiap kamar.

Bentuk ruangan bagian dalam adalah segi empat yang menjadi simbol kekuatan alam, yaitu api, air, tanah dan angin. Pada saat proses pembangunan, maka jumlah kamar yang diperbolehkan hanya 3 saja.

Namun, setelah ditempati Kamu boleh menambah bangunan kamar. Hal ini berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat Gorontalo terhadap 3 alam yang akan dialami oelh manusia. Alam tersebut antara lain adalah rahim, dunia dan akhirat. Pada mulanya manusia berawal dari tidak ada kemudian hidup dan meninggal.

Pembangunan kamar tidur pada rumah adat Gorontalo ini pun telah diatur. Kamar bagian depan diperuntukkan untuk anak laki-laki, sedangkan kamar bagian belakang diperuntukkan bagi anak perempuan. Bahkan, dijumpain adanya adab yang mengatur bagaimana tata cara untuk menerima tamu.

Tamu laki-laki dijamu di bagian serambi rumah. Sedangkan, tamu perempuan diwajibkan untuk masuk ke dalam rumah, yaitu di ruang tamu. Tujuannya adalah untuk mencegah bertemunya antara laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Hal ini dilakukan mengikuti ajaran dalam syariat islam.

Ada empat jenis rumah adat Gorontalo yang mana masing-masing rumah memiliki bentuk yang unik dan menarik. Dengan demikian Kamu tidak dapat menjumpainya pada rumah adat lainnya selain di Gorontalo.

Setiap rumah memiliki fungsi yang berbeda-beda tergantung kepercayaan dan adat dari masyarakat setempat. Rumah ada yang berfungsi sebagai tempat tinggal ada yang untuk acara saja.

Tinggalkan komentar